Dukungan Ferron untuk Penderita dan Penyintas Kanker Limfoma

PT Ferron Par Pharmaceuticals bekerja sama dengan Cancer Information and Support Center (CISC) Indonesia menyelenggarakan acara Peringatan Hari Kanker Limfoma Sedunia bertema "Hidup Lebih CERDIK dengan Lymphoma". Peringatan Hari Kanker Limfoma Sedunia yang jatuh setiap tanggal 15 September, menjadi momen peringatan bahwa penderita kanker limfoma harus tetap berjuang untuk mendapatkan keberlangsungan hidup yang lebih lama.

Acara ini telah diselenggarakan pada Sabtu, 15 September 2018 di Hotel IBIS Menteng, Jakarta Pusat. Hadir pada acara ini Presiden Direktur PT Ferron Par Pharmaceuticals, Bapak Krestijanto Pandji dan Head Of Corporate Communications Dexa Group, Bapak Sonny Himawan. Turut hadir narasumber yaitu dr. Ronald A. Hukom, Sp.PD, KHOM (Perhimpunan Hematologi Onkologi Medik Ilmu Penyakit Dalam Indonesia - Perhompedin), Bapak Suparnili Sarim (Survivor Kanker Limfoma), dan Ibu Ariyanthi Baramuli Putri (Ketua CISC Indonesia).

Menurut Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI, sekitar 1.000 orang setiap hari di dunia, didiagnosis menderita limfoma. Sementara di Indonesia, diambil dari data Globocan 2018, sebanyak 35.490 orang didiagnosis limfoma dalam lima tahun terakhir dan 7.565 orang meninggal dunia. Pada tahun 2018, kasus baru non-hodgkin limfoma mencapai 14.164 orang dan memiliki prevalensi 4,57 %.

Saat ini, non-hodgkin limfoma menempati peringkat ke-7 penyakit kanker di Indonesia, di bawah kanker payudara, serviks, paru-paru, usus, prostat, ovarium, hati, dan nasofaring. “Angka kematian yang cukup tinggi ini karena lambatnya deteksi sehingga penanganannya sudah pada stadium lanjut. Lebih parah lagi karena masih ada pasien yang tidak berobat ke dokter yang tepat, atau memilih pengobatan melalui jalur alternatif, atau dukun,” jelas Dr. Ronald.

Lebih lanjut Ronald menjelaskan, limfoma merupakan istilah umum untuk berbagai tipe kanker darah yang muncul dalam sistem limfatik, yang menyebabkan pembesaran kelenjar getah bening. Limfoma disebabkan oleh perubahan sel-sel limfosit B atau T, yaitu sel darah putih yang dalam keadaan normal atau sehat berfungsi menjaga daya tahan tubuh dan menangkal berbagai jenis infeksi. Pada kasus limfoma, sel B atau T ini membelah lebih cepat, tak terkontrol, dan hidup lebih lama dari biasanya.

Ada beberapa jenis limfoma, dengan dua golongan besar yaitu  Limfoma Hodgkin (10%) dan Limfoma Non-Hodgkin (90%). Dengan pengobatan medis yang tepat dan sedini mungkin, banyak pasien limfoma yang mampu menjaga penyakit mereka di bawah kontrol dan memiliki kualitas hidup  yang baik, bahkan sembuh.

Program JKN/BPJS Kesehatan yang ada sejak tahun 2014 memiliki tujuan yang sangat bagus. Sayangnya, fakta di lapangan kadang tidak sama. Menurut Aryanthi Baramuli Putri, pendiri CISC Indonesia, keberadaan BPJS memang sangat membantu pasien dalam pengobatan kanker namun masih perlu banyak perbaikan sehingga pelayanan pengobatan kanker akan menjadi semakin baik.

“Misalnya tentang rujukan berjenjang dan pembaharuan rujukan per 3 bulan sebaiknya tidak diberlakukan untuk pasien kanker. Ini semua dimaksudkan untuk efisiensi biaya, baik untuk pemerintah dalam hal ini BPJS dan juga untuk pasien sendiri,” ujar Aryanthi.

Masalah lain adalah obat-obatan limfoma  yang masih dirasakan cukup mahal, dan tidak semua masuk dalam jaminan BPJS. Meskipun ditanggung BPJS, tetap saja ada prosedur panjang yang harus dilalui oleh penderita kanker. Fasiltas rumah sakit yang terbatas membuat pasien juga harus menunggu antrean untuk tindakan, bahkan sampai beberapa bulan.

Oleh karena itu, terkait dengan peringatan hari peduli kanker getah bening (lymphoma) yang selalu diselenggarakan CISC sejak beberapa tahun yang lalu diharapkan dapat memberikan informasi seluas-luasnya, tidak hanya untuk pasien limfoma, tetapi juga kepada masyarakat umum tentang gejala-gejala apa saja yang harus diwaspadai. Sehingga semakin dini limfoma diketahui, maka semakin tinggi tingkat kesembuhannya.

“Untuk tahun ini, CISC bekerjasama dengan PT Ferron Par Pharmaceuticals dan diharapkan masyarakat mendapatkan informasi yang tepat tentang gejala, risiko, dan cara pengobatan yang benar. Di mana media adalah sebagai ujung tombak bagaimana informasi tersebut dapat diterima oleh masyarakat,” kata Aryanthi.

“Khusus untuk limfoma karena gejalanya tidak khas alias samar, maka perlu ada informasi terkait gejala limfoma dan pentingnya pemeriksaan dini,” jelas Aryanthi.  Selain deteksi lebih dini, karena penyakit ini menyerang sistem  kekebalan tubuh, maka harus diperhatikan cara pencegahan dengan menjaga gaya hidup seperti pola makan sehat, tidak merokok, dan banyak aktivitas fisik.

Dukungan Ferron untuk Limfoma
Salah satu masalah nyata yang dihadapi oleh pasien limfoma adalah mahalnya harga obat-obatan. PT Ferron Par Pharmaceuticals sebagai salah satu pemasar obat kanker untuk terapi limfoma telah memproduksi obat hasil pengembangan bendamustin, yakni Fonkomustin.

“Obat ini adalah produksi PT Fonko International Pharamceuticals—bagian dari Dexa Group juga, yang dikembangkan oleh saintis Indonesia. Produk ini sangat baik untuk penderita limfoma dan dulu sebelum Fonko memproduksi, produk ini tidak dijual di Indonesia. Inilah yang menjadi latar belakang, supaya penderita limfoma bisa mudah mendapatkannya di Indonesia. Karena diproduksi di Indonesia, otomatis harga obat lebih terjangkau. Harapannya juga penderita limfoma mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik dengan bendamustin-rituximab, dibandingkan kemoterapi standar yang memiliki lebih banyak efek samping,” jelas Bapak Kres.

Bendamustin yang diproduksi sejak 2014 dan diluncurkan di awal 2018 tersebut diproduksi dengan kualitas standar Eropa dan saat ini tengah diproses masuk formularium nasional sehingga dapat digunakan segera oleh pasien BPJS. Produk tersebut kini digunakan untuk pasien limfoma dan direkomendasikan di Rumah Sakit Kanker Dharmais. Corporate Communications Ferron Par Pharmaceuticals
 

Date Release: 
Tuesday, September 18, 2018 - 16:45
Top